Pengalaman Beli Rumah Warisan

Awalnya istri ditawarin sama Om katanya dititipin minta dijualin rumah sama temen sekolahnya dulu. Rumahnya sih rumah model lama, tapi luas tanahnya yang menarik 590 m2. Singkat cerita setujulah kita beli rumah itu dengan harga hasil tawar menawar.

Kita minta waktu untuk pembayarannya karena memang kita berencana belinya pake KPR, dan waktu itu mereka yang diwakilin anak ke-3 ama ke-4 setuju dan kita bayar uang muka sebagai tanda jadi. Seiring berjalan waktu pihak bank pun meminta persyaratan standar untuk KPR. Disinilah mulai berbagai ketidakenakan terjadi, ketika kita meminta beberapa persyaratan diantaranya dokumen penjual, dalam hal ini identitas orang tua mereka, kebetulan sang ayah masih hidup, terus IMB, yang ternyata belum ada, sama PBB yang juga harus dicari dulu di desa. Merespon permintaan data ini si anak ke-3 yang berprofesi sebagai guru dan sudah bergelar S2 mulai sumpah serapah bak bukan orang sekolahan, dan ini berlanjut hingga proses jual beli selesai. Yang lain pun begitu tetapi masih bisa diajak diskusi.

Ketika semua persyaratan sudah cukup, ternyata pas diperiksa notaris munculah syarat lain yang harus dipenuhi, karena rumah tersebut adalah terdaftar sertifikatnya atas nama sang bapak bersama almarhumah istri pertamanya, sehingga rumah tersebut tergolong harta waris. Karena tergolong harta waris, maka ada persyaratan tambahan yaitu harus ada surat keterangan waris yang ditandatangan oleh semua ahli waris (4 orang anak, dmn 2 orang di luar kota), surat keterangan kematian, ktp plus kartu keluarga masing-masing ahli waris, dan tanda tangan semua ahli waris pada akta jual beli.

Mengingat proses-proses sebelumnya yang bakal memakan waktu dan kita terikat perjanjian jual beli (ini yang harusnya kita yang nyiapin diawal) dimana kalau sisa uang gak dipenuhi duit kita yang udah masuk hangus 50%-nya, akhirnya kita putuskan untuk tidak melanjutkan KPR, tapi kita pake duit yang tadinya mau dipake buat renovasi.

Untuk kelancaran dari segi hukum, kita langsung datang ke notaris dan meminta bantuan penyelesaian atas segala isu yang muncul. Alhamdulilah notarisnya sama pegawai yang ditugaskan sangat membantu kita mensolusikan. Melalui proses yang cukup rumit dan menyita waktu dan emosi, alhamdulilah akhirnya rumah tersebut bisa kita miliki, dengan ada 2 syarat penjual yaitu kartu keluarga 2 ahli waris yang belum ada sebagai syarat balik nama yang tersisa, yang insya allah bersedia diurus oleh pihak notaris, semoga diberi kelancaran.

Jadi disini yang mau saya share adalah apa aja yang perlu dicek dan disiapkan ketika akan membeli rumah bekas, khususnya rumah warisan :

  1. Cek kelengkapan dokumen rumah : Sertifikat, IMB, PBB, dan bukti pembayaran PBB. Semua harus ada aslinya.
  2. Cek apakah rumah tersebut tergolong harta waris atau bukan, nama yang tercantum di sertifikat atau pasangannya masih hidup atau tidak.
  3. Jika tergolong harta waris maka minta kesediaan seluruh anak-anaknya untuk membuat surat waris dan surat keterangan kematian dari desa dan kecamatan, pastikan segala pengeluaran untuk pembuatan dokumen ini menjadi tanggung jawab penjual.
  4. Hati-hati dalam membuat perjanjian jual beli, kewajiban tidak hanya milik pembeli, tapi penjual juga memiliki kewajiban, termasuk dokumen-dokumen diatas, serta pajak penjual kelak saat di depan notaris. Cantumkan hal ini secara detail.
  5. Minta bantuan notaris untuk menjadi penasihat di sisi legal supaya lebih aman dan nyaman.
Segitu dulu ya, semoga bermanfaat :)
About these ads

About ariftor

A not so fat indonesian young man who's trying to be more practical than ever
This entry was posted in Curat Coret. Bookmark the permalink.

8 Responses to Pengalaman Beli Rumah Warisan

  1. lea says:

    terima kasih banyak ya…
    ini sangat membantu……

    salam,
    lea

  2. indra says:

    bisa minta contoh surat perjanjian jual beli rumah warisan dan apakah semua ahli waris harus bertanda tangan di atas materai pada surat perjanjian jual beli itu. trims

  3. Bayu T. says:

    Mohon info soal surat kesediaan seluruh anak-anaknya ini apa mesti dibuat didepan notaris? krn kita tersebar dibyk kota bgm? klu harus biaya kena brp?

  4. Terima kasih sharing ya… Sanger Berguna!

  5. ikhwan amirudin says:

    kalau yang menjual adalah orang tua yg namanya tertera dalam sertifikat apakah tetap harus ada surat keterangan waris? dan persetujuan dari anak-anaknya?

    • ariftor says:

      kalo pasangan dari orang tua tersebut telah meninggal tetap harus ada surat keterangan waris. kasusnya sama dgn yg saya alami. sang orang tua yg namanya ada sertifikat masih ada, tp istrinya sudah tiada, hal ini terlacak oleh notaris. makanya diperlukan surat keterangan waris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s