Full Banjir Lebaran

Pertama kalinya ngerayain lebaran di rumah mertua di dayeuhkolot, langsung disambut dengan banjir sejak H-2. Entah udah dianggap teman atau gimana, meskipun banjir datang, tetangga di sekitar tetap semangat menyambut lebaran. Mungkin ini yang disebut “tak peduli hujan badai (banjir), the show must go on” .

Menurut cerita istri, dulunya sekitar tahun 80an tidak pernah terjadi banjir. Sungai Citarum yang melintas di dekat pemukiman adalah tempat main paling asyik, dengan air yang bening. Memasuki tahun 90an barulah mulai banjir.

Sudah menjadi rahasia umum, seperti yang terjadi di Jakarta, banjir datang salah satu pengundang utamanya adalah bertebarannya “pohon beton”. Lahan yang awalnya menjadi jalan air, menjadi terhalang oleh bangunan2 menjulang tinggi, yang menjadi simbol kemajuan kota.

Kalo maen sedikit ke daerah dekat kampus dulu, di sekitar bojongsoang sekarang berdiri bangunan2 perumahan yang menempati lahan persawahan. Entah apakah pembangunan perumahan ini sudah melalui kajian terlebih dahulu dari para pemberi izin, atau “hepeng mangatur nagaraon?”, wallohualam…

Yang menjadi pertanyaan, apakah pemerintah setempat benar2 berpikir bagaimana menemukan solusi yang tepat? atau malah menganggap hal ini sesuatu yang tidak bisa diatasi, dan yang penting bantuan bisa mengalir saja? Memang butuh usaha ekstra, dan terobosan yang tidak hanya sensasional tapi juga efektif. Apakah sudah ada studi tentang sabab musabab banjir di dayeuhkolot, baleendah, dsk? Untuk yang terakhir ini saya yakin pernah ada yang melakukannya, karena Bandung memiliki Perguruan Tinggi dengan Jurusan Planologi terbaik. Hanya saja kembali, adakah pihak pemerintah setempat punya keberanian untuk mengeksekusi hasil studi?

Pengerukan demi pengerukan yang telah dilakukan terbukti tidak efektif, atau malah menjadi proyek berkala? ah, kembali wallohualam… Mungkin pilihannya adalah membongkar “pohon2 beton” beserta “ilalang beton” yang menghalangi jalur air, atau memindahkan pemukiman di sekitar Citarum? Duka teuing atuh ah, mangga anu gaduh elmu sareng kawasa nu ngojayan :)

Hapunten ah, mung 2 sen sim kuring ;)

About ariftor

A not so fat indonesian young man who's trying to be more practical than ever
This entry was posted in Curat Coret and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s